Paper Unggas – Seminar (26 Nov 2013)

Standard

TINGKAT WELFARE AYAM BROILER FASE FINISHER PADA KEPADATAN KANDANG TINGGI

M.R. Fatra

Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang

ABSTRAK

         Ayam broiler sebagai komoditas produksi dalam sektor peternakan mempunyai permasalahan sensitivitas terhadap lingkungan. Cekaman panas dapat menurunkan produktivitas broiler. Cekaman panas tersebut disebabkan oleh kepadatan kandang tinggi (High Density). Kepadatan kandang tinggi akan berpengaruh terhadap penurunan produktivitas broiler, penurunan daya tahan tubuh dan mengubah perilaku (behavior) broiler menjadi lebih agresif. Hal tersebut disebabkan oleh kepadatan kandang yang tinggi sehingga menimbulkan cekaman panas dan mengurangi tingkat welfare broiler. Fase finisher merupakan fase broiler menginjak usia di atas 4 minggu dan siap panen. Fase finisher memerlukan manajemen pemeliharaan yang baik sehingga dapat mengurangi pengaruh cekaman panas. Penanganan dalam manajemen perkandangan sangat berpengaruh pada produktivitas dan aktivitas broiler. Suhu optimal yang menjadi zona nyaman (comfort zone) broiler berbeda tiap fase pertumbuhannya. Suhu optimal untuk hidup Day Old Chick (DOC) broiler antara 25° − 29°C. Fase finisher yang telah siap panen dan menginjak usia dewasa yaitu 28 – 42 hari membutuhkan suhu optimal yang lebih rendah yaitu 22° − 24°C.

Kata kunci: Welfare, kepadatan kandang, broiler, fase finisher.

PENDAHULUAN

Animal atau Poultry Welfare  merupakan aspek yang harus diperhatikan dan diprioritaskan dalam memelihara dan beternak broiler (Škrbić et al., 2009). Ayam broiler adalah ternak dengan tingkat sensitivitas tinggi terhadap cekaman sehingga membutuhkan kondisi welfare yang baik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi ketersediaan pakan yang cukup, minum dengan sistem ad-libitum dan bangunan kandang yang mempunyai sistem sirkulasi udara yang baik sehingga suhu di dalam kandang tidak menyebabkan panas tinggi. Kepadatan kandang sangat mempengaruhi kenyamanan ternak dalam beraktivitas dan melakukan produksi (Iskandar et al., 2009). Manajemen pemeliharaan meliputi menajamen perkandangan berkaitan dengan stocking density atau tingkat kepadatan  (Ali et al., 2012). Fase pertumbuhan broiler terdiri dari fase starter dan finisher. Fase starter dan finisher memiliki perbedaan diantaranya perlakuan pemberian pakan dan kepadatan kandang. Perbedaan perlakuan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kondisi organ pencernaan dan fisiologis broiler (Sun, 2004).

Kepadatan kandang setiap fase berbeda dikarenakan semakin besar bobot badan broiler maka ruang gerak yang dibutuhkan semakin besar (Kenan, 2008). Hal tersebut juga berpengaruh terhadap sirkulasi udara yang diperlukan broiler pada fase finisher harus lancar. Kepadatan kandang walaupun tidak ada ukuran baku tetapi harus disesuaikan dengan keadaan kandang dan jumlah ayam. Kepadatan kandang yang tidak diatur dengan baik akan berdampak terhadap performa sehingga mempengaruhi produktivitas broiler (Buijs et al., 2009).

Kepadatan kandang dan cekaman panas juga berpengaruh terhadap tingkah laku (behavior) dan daya tahan tubuh (immunity) (Heckert et al., 2002). Ayam broiler lebih rentan terinfeksi penyakit yang disebabkan virus dan bakteri pada kepadatan kandang tinggi. Ayam broiler akan cendrung berperilaku menyimpang seperti mematuk dinding kandang atau ayam lain (pecking) dan berkelahi (fighting) (Iskandar et al., 2009).

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dampak negatif kepadatan kandang tinggi terhadap aktivitas dan produktivitas broiler serta dampak negatif yang disebabkan oleh cekaman panas terhadap tingkat welfare broiler.

Manfaat penulisan makalah ini adalah agar pembaca mampu memahami pentingnya manajemen kepadatan kandang broiler yang sesuai sehingga mengurangi dampak cekaman panas dan memberikan efek welfare yang dibutuhkan ternak.

 PEMBAHASAN

Animal dan Poultry Welfare atau kesejahteraan hewan adalah suatu usaha manusia untuk memberikan lingkungan yang sesuai bagi hewan (Ventura, 2009). Animal atau Poultry Welfare mempunyai lima kebebasan yang harus dimiliki hewan yaitu bebas dari rasa lapar dan haus, panas dan tidak nyaman, luka dan penyakit, rasa takut dan penderitaan serta bebas melakukan perilaku alaminya. Animal dan Poultry Welfare berkaitan dengan pemberian lingkungan tempat tinggal yang sesuai dengan kebutuhan broiler. Animal dan Poultry Welfare dapat diidentifikasi melalui fisiologis dan tingkah laku (Buijs et al., 2009).

Tingkat welfare broiler dapat diidentifikasi melalui aspek fisiologis yaitu dengan memperhatikan jumlah respirasi dan suhu tubuh. Jumlah respirasi yang normal untuk broiler adalah 15 – 25 siklus/menit, sedangkan suhu normal tubuh broiler 40°C dengan suhu maksimal 44°C (Abioja et al., 2012). Siklus respirasi dan suhu tubuh broiler yang melebihi standar tersebut mengindikasikan broiler mengalami kondisi di luar comfort zone. Suhu lingkungan tinggi mengakibatkan broiler berusaha mengeluarkan panas tubuh dengan cara konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi (Buijs, 2011).

Upaya mengeluarkan panas tubuh dapat diamati dari perilaku unggas. Tingkah laku unggas dapat dibagi menjadi beberapa jenis aktivitas yaitu aktivitas normal, aktivitas untuk menyeimbangkan panas tubuh dan agresivitas ternak akibat cekaman panas. Tingkah laku normal adalah makan (eating), minum (drinking), berjalan (walking), duduk (sitting) (Guo et al., 2012). Tingkah laku untuk menjaga keseimbangan suhu tubuh dengan lingkungan diantaranya mengepakkan sayap (wing flapping), menegakkan bulu (fluffing), meletakkan tubuh ditanah supaya panas tubuh hilang melalui proses konduksi (dust bathing) dan proses evaporasi (penting). Tingkah laku agresif akibat cekaman panas diantaranya mematuk dinding dan ayam lain (pecking), berkelahi (fighting) (Ventura, 2009).

Kepadatan kandang yang baik merupakan bentuk manajemen pemeliharaan terhadap broiler untuk memberikan kondisi welfare. Kepadatan kandang tinggi menyebabkan broiler mengalami cekaman panas sehingga mengganggu aktivitas dan proses metabolisme. Buijs et al. (2009) menjelaskan bahwa ada korelasi antara kepadatan kandang tinggi dengan tingkat produktivitas broiler dalam memproduksi daging. Level kepadatan kandang harus disesuaikan dengan kondisi suhu dan daerah peternakan broiler. Kepadatan kandang di dataran rendah yang disarankan adalah 8 – 10 ekor/m2 sedangkan untuk dataran tinggi 11 – 12 ekor/m2 (Guo et al., 2012).

Kepadatan kandang mempengaruhi suhu dalam kandang, sirkulasi udara, tingkah laku (behavior) ternak dan cekaman (Škrbić et al., 2009). Sensitivitas broiler terhadap suhu dan sirkulasi udara sangat tinggi, sehingga apabila suhu naik maka broiler akan mengalami cekaman panas. Adiwinarto (2005) menyatakan bahwa broiler merupakan hewan homeotermal atau berdarah panas yang mampu melepaskan panas tubuh ke lingkungan dengan cara konveksi, konduksi, radiasi dan evaporasi. Beloor et al. (2010) menambahkan bahwa permasalahan di area tropis seperti Indonesia adalah suhu relatif tinggi sehingga menyebabkan masalah cekaman panas bagi broiler.

Manajemen perkandangan sangat berpengaruh pada produktivitas dan aktivitas broiler. Suhu optimal yang menjadi zona nyaman (comfort zone) broiler berbeda tiap fase pertumbuhannya. Suhu optimal untuk hidup Day Old Chick (DOC) broiler 25° − 29°C (Enting, 2005). Fase finisher yang menginjak usia dewasa antara 28 – 35 hari membutuhkan suhu yang lebih rendah yaitu 22° − 24°C (Adiwinarto, 2005). Kenan et al. (2008) menambahkan suhu normal tubuh ayam  adalah sekitar 40° − 44°C.

Cekaman panas akan mengakibatkan penurunan produktivitas pada broiler (Buijs, 2011). Konsumsi air minum akan meningkat sehingga menurunkan konsumsi pakan. Ayam broiler seluruh badannya tertutup bulu dan tidak mempunyai kelenjar keringat sehingga pembuangan panas melalui proses panting (Latipudin dan Mushawwir, 2011). Panting adalah perilaku untuk mengeluarkan panas tubuh yang berlebih ketika terjadi cekaman panas (Guo et al., 2012). Hal tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan kondisi tubuh dan luar tubuh. Apabila hal tersebut kerap terjadi maka kondisi welfare ternak berkurang dan dapat menurunkan produktivitasnya.

Kepadatan kandang merupakan faktor yang mempengaruhi stabilitas kondisi broiler di dalam kandang. Kepadatan kandang berkaitan dengan aliran udara, suhu dan konsumsi pakan (Beloor et al., 2010). Kepdatan kandang normal untuk broiler yang berada di dataran rendah adalah 8 – 10 ekor/m2 sedangkan ternak broiler di dataran tinggi kepdatannya 11 – 12 ekor/m2 (Guo et al., 2012). Dataran rendah yang suhunya 30° − 35°C kepadatan kandang normal broiler antara 8 – 10 ekor/m2. Kepadatan kandang harus dikurangi dengan tujuan menekan panas (Škrbić et al., 2009). Dataran tinggi memiliki suhu sekitar 23° − 28°C maka kepadatan broiler dapat dinaikkan menjadi 11 – 12 ekor/m2. Hal ini bertujuan agar broiler fase finisher tetap merasakan suhu optimal 22° − 24°C.

Tabel 1. Suhu Minimal, Maksimal dan Rata – rata Mikroklimat Kandang

Minggu ke-

Temperatur (°C)

Minimal

Maksimal

Rata – rata/Optimal

1

24,5

29,7

27,8

2

23,7

28,3

25,3

3

25,1

30,4

26,4

4

24,9

29,1

27,9

5

25,4

31,0

28,5

6

24,3

29,5

27,3

Sumber: Kenan (2008).

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat perbedaan suhu yang diperlukan oleh broiler setiap minggu. Hal tersebut berhubungan dengan pertambahan bobot badan broiler. Sun (2004) berpendapat bahwa pemberian suhu kandang disesuaikan dengan pertambahan bobot badan dan fase pertumbuhan broiler. Pemberian suhu yang berbeda setiap minggu dilakukan untuk menyesuaikan dengan suhu tubuh broiler dan untuk menekan pengaruh cekaman panas. Hal ini sesuai dengan pendapat Adiwinarto (2005) bahwa suhu sebagai kebutuhan broiler untuk menciptakan kondisi welfare.

Tabel 2. Pengaruh Suhu Berbeda terhadap performa dan FCR (Feed

 Conversion Ratio) Ayam Broiler Umur 35 Hari

Suhu (°C)

Konsumsi pakan (g/h)

PBB (g/h)

Bobot Hidup (g)

Berat Karkas (g)

FCR

34 – 36

 50,51c

 31,28c

 1168,72c

  828,47c

1,64

29 – 32

  70,42b

 41,17b

 1395,10b

  992,01b

1,50

20 – 24

105,64a

 72,03a

 1742,89a

1203,51a

1,47

Superksrip berbeda  pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05).

Berdasarkan Tabel 2 bahwa perlakuan suhu berbeda broiler umur 35 hari memberikan efek yang berbeda. Pada suhu 34° − 36°C terjadi penurunan konsumsi pakan yang berdampak terhadap Pertambahan Bobot Badan (PBB), bobot hidup, berat karkas dan Feed Conversion Ratio (FCR). Perlakuan dengan suhu 29° − 32°C menunjukkan jumlah konsumsi lebih tinggi. Perlakuan dengan suhu 20° − 24°C menunjukkan efek welfare terbaik bagi broiler. Konsumsi harian broiler paling tinggi terjadi pada suhu 20° − 24°C sehingga memberikan dampak baik pada nilai PBB, bobot hidup, berat karkas dan FCR. Adiwinarto (2005) menambahkan bahwa suhu kandang berpengaruh terhadap aktivitas dan pertambahan bobot badan broiler.

Pertambahan bobot badan broiler selama pemeliharaan dipengaruhi oleh suhu (Guo et al., 2012). Suhu yang dimaksud adalah suhu di dalam kandang (microclimate) dan di luar kandang (macroclimate). Suhu di dalam kandang yang baik untuk fase finisher sekitar  22° − 24°C. Suhu kandang tinggi dan melebihi suhu optimal akan memberikan efek cekaman pada broiler. Broiler akan berusaha untuk mengeluarkan panas dari dalam tubuh.

Konsumsi air minum berlebih merupakan salah satu cara broiler menetralisir panas tubuh. Kondisi tersebut secara tidak langsung akan mengurangi jumlah konsumsi pakan broiler. Berdasarkan pendapat Enting (2005) bahwa dalam pencernaan terjadi proses metabolik yang melibatkan enzim. Enzim yang terlibat dalam proses pencernaan pakan diantaranya ptialin/amilase, asam lambung HCl, amilase pankreas dan lipase (Kenan, 2008). Aktivitas enzim menyebabkan tubuh menghasilkan panas sehingga apabila suhu tubuh panas dan suhu di luar tubuh panas pula maka broiler akan kesusahan menetralisir panas tubuh walaupun telah melakukan panting (Latipudin dan Mushawwir, 2011). Mekanisme panting tersebut membutuhkan energi yang besar sehingga menyebabkan energi yang dimiliki broiler digunakan untuk mengeluarkan panas dan energi untuk proses pembentukan daging akan berkurang (Buijs et al., 2009).

Tabel 3.    Efek Kepadatan Kandang Terhadap Bobot Badan (BB),

Hemoglobin dan Feed Conversion Ratio (FCR) Broiler.

Parameter

Perlakuan Kepadatan

8 – 9 ekor/m2

12 – 13 ekor/m2

17 ekor/m2

BB awal (g/ekor)

     46,75

 46,77

  46,77

BB minggu ke-1

   173,02          179,49      177,67

BB minggu ke-2

   434,64a          451,63b

 428,71a

BB minggu ke-3

   843,77ab          868,17b

 824,27a

BB minggu ke-4

 1394,03b        1412,40b    1267,77a

BB minggu ke-5

 1992,52b        2016,10b    1853,79a

BB minggu ke-6

 2420,03b        2398,91b    2255,80a

FCR (g feed/g BW) 21-42 hari

       2,02a

     2,03a

     2,21b

Hemoglobin (g/dL)

     14,10            13,90

  12,97

Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (p<0,05).

Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa adanya pengaruh kepadatan terhadap kondisi broiler. Kadar hemoglobin dalam darah broiler tidak dipengaruhi oleh tingkat kepadatan kandang. Sekeroglu et al. (2011) berpendapat bahwa terdapat perbedaan nyata terhadap pertambahan bobot badan broiler pada kepadatan kandang berbeda. BB dan kadar hemoglobin menjadi parameter pengaruh kepadatan terhadap kondisi fisiologis broiler. Perbedaan yang signifikan terjadi pada pertambahan BB broiler minggu ke-1 sampai dengan ke-6. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen dalam darah untuk didistribusikan ke seluruh tubuh (Sekeroglu et al., 2011). Sesuai pendapat Sekeroglu et al. (2011) bahwa kadar hemoglobin pada normalnya adalah 8,6 g/dL sampai 13,2 g/ dL.

Tabel 4. Perlakuan Low Density (LD), Standard Density (SD) dan High

         Density (HD) Terhadap Performa Ayam Broiler

Parameter

Perlakuan

LD

SD

HD

Bobot awal (g/ekor)        185,08     185,88   185,93
Bobot badan akhir (g/ekor)      2098,38a   1970,72b 1977,75b
Rata – rata BB (g/ekor/hari)          65,98       61,55

 61,79

Rata – rata Feed intake (g)        114,08a     101,45b

 103,22b

Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (p<0,05).

        Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan nyata terhadap bobot badan akhir dan rata – rata Feed Intake (FI). Rata – rata bobot badan broiler per hari tidak dipengaruhi secara signifikan oleh kepadatan. Rata – rata FI menunjukkan peurunan angka dari perlakuan LD, SD dan HD. Nilai FI pada LD yaitu 114,08 g menjadi 101,45 g pada SD dan 103,22 g pada HD. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Beloor et al. (2011) bahwa pada dasarnya suhu tinggi yang menyebabkan cekaman panas pada broiler akan menurunkan konsumsi pakan sehingga berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan, FI, konversi pakan dan bobot akhir broiler.

Kepadatan kandang selain berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan broiler juga berpengaruh terhadap daya tahan tubuh broiler. Hal ini sesuai dengan pendapat Heckert (2002) bahwa kepadatan kandang tinggi dengan diiringi oleh suhu yang tinggi menyebabkan kondisi kekebalan atau imunitas tubuh ternak menurun. Respon tubuh terhadap virus dan bakteri akan melemah dikarenakan kepadatan tinggi, sehingga virus dan bakteri akan mudah menyerang daya tahan tubuh. Kepadatan kandang tinggi, sirkulasi udara tidak lancar sehingga ada kemungkinan udara kotor yang terdapat virus dan bakteri akan mengendap di dalam kandang (Beloor et al., 2010). Sensitivitas dan daya tahan tubuh broiler yang sangat rentan terkena cekaman panas memberikan efek negatif. Broiler akan mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri (Almeida, 2012).  Penyakit yang biasa menyerang broiler diantaranya Newscastle Disease (ND) atau tetelo, Salmonelosis dan Coccidiosis (Heckert, 2002). Penyakit – penyakit tersebut apabila telah menyerang ternak unggas terutama broiler akan berakibat terhadap penurunan produktivitas dan mortalitas.

PENUTUP

        Kepadatan kandang yang baik merupakan salah satu manajemen untuk menciptakan kondisi welfare dan merupakan faktor yang mempengaruhi stabilitas kondisi broiler di dalam kandang.  Permasalahan yang terjadi adalah sebagian peternakan broiler tidak memperhatikan faktor kepadatan kandang. Kepadatan kandang yang optimal untuk broiler adalah 8 – 9 ekor/m2 dan maksimal 12 ekor/m2 di daerah tropis. Kepadatan berpengaruh terhadap performa, konsumsi pakan dan Feed Intake (FI), tingkah laku (behavior) dan daya tahan tubuh broiler (immunity). Cekaman panas dan High Density menyebabkan ternak melakukan perilaku agresif seperti mematuk (pecking) dan berkelahi (fighting). High Density dengan suhu tinggi menyebabkan imunitas tubuh ternak menurun sehingga menyebabkan ayam mudah terserang penyakit.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s